Tuesday, 23 April 2013

Liku Mimpi dan Cita-cita



                                                                                    Oleh: M. Junianto Tri Gunawan
                                                                                   Alumni XII Ipa 1 SMAN 1 Gedangan tahun 2012

            Sebuah hari di Januari 2012. Awan tengah baik hati. Membiarkan sinar mentari menerobosnya dengan garang. Membuatku hampir melenakan nikmat Allah yang satu ini. Hari ini adalah hari pertanggung jawaban. Hari dimana aku harus mengetahui hasil belajarku selama semester  5 masa SMAku. Konon, rangking kelas disemester ini akan menjadi syarat berhak mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur undangan, seperti persyaratan tahun lalu. Hanya yang masuk 50% rangking kelas yang berhak mengikutinya. Sekelasku ada 36 siswa. Minimal aku harus rangking 18 untuk berhak mengikuti seleksi ini. Semester 2 dan 3, aku berturut-turut rangking 14 dan 15. Dan untuk semester ini, aku berharap tidak merosot begitu jauh, agar aku tak kalah sebelum berperang.
Ilustrasi
            Sedikit melankolis suasana siang itu. Aku bersama beberapa teman, Hendra, Adjie, Cita, Cintya, Husna, dan teman yang lain bercengkerama di depan ruang kelas, menanti orang tua keluar dengan kabar bahagia. Sedikit gelisah ketika melihat tumpukan raport yang akan dibagi. Khawatir dengan isinya yang tidak memuaskan.
            "Alhamdulillah, aku rangking 3" ucap Cintya setelah membaca lembaran urutan rangking yang dibawa Ayahnya keluar kelas.
            "Wah, aku berapa ya?? " pertanyaan yang sama dariku dan teman-temanku. Rasa penasaran membuat kami berebut lembaran itu. M Junianto Tri G, kucari namaku di deretan nama teman-teman. Saat kutemukan namaku, kulihat urutanku: 22. Aku tidak berhak mengikuti SNMPTN undangan. Seolah siang menjadi malam yang begitu  gelap. Saat gelapnya mampu meniadakan indahnya taburan bintang. Saat bulan seolah kehilangan sinarnya. Hanya ada kegelapan yang menandai malam semakin malam. Membiarkan aku tenggelam dalam hitam, terpuruk dalam ketidakpercayaan. Aku memang tidak seberapai pandai. Tidak pandai malahan. Aku memang menyadari itu. Tapi tetap saja aku tak bisa menerima kenyataan ini.
            Beberapa bulan kemudian, ada sosialisasi tentang SNMPTN undangan dari guru BK. Persyaratan SNMPTN Undangan 2012 diubah. Yang tadinya syaratnya rangking 50% kelas, kini diubah menjadi rangking 50% pararel. Dan aku?? Alhamdulillah berhak mengikuti SNMPTN Undangan. Walau begitu, aku masih saja belum bisa bernafas lega. Masalah klasik masih saja menghalangiku: biaya. Ekonomi keluargaku tidaklah baik. Namun Alhamdulillah, ada program bidikmisi dari pemerintah, yang memungkinkan aku merasakan pendidikan tinggi tanpa biaya akademis apapun. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Memberi Pertolongan.
***
            08 Juni 2012. "Esok, perpisahan kita mulai benar adanya. Akan ada "kehidupan" baru yang harus kita selami. Tiada lagi cerita kejahilan ababil ABG labil kita. Hilang sudah putih abu-abu kita. Hanya ada haru dan harapan untuk bertemu lagi nantinya, semoga dalam keadaan yang lebih baik tentunya". Kutersenyum membacanya. Sebuah SMS dari temanku, Hendra. Beberapa SMS bernada serupa namun beda kata berebut masuk hapeku. Ada dari Adjie, Cintya, Cita, dan lainnya. Besok adalah resepsi perpisahan kami. Pantas saja kalau mereka galau.
            Mentari cerah dari timur. Senyum mengembang dariku. Kemeja terang berdasi, dibalut setelan jas gelap pinjaman pamanku, ditambah sepatu pantofel membuatku semakin percaya diri. Ini adalah dresscode siswa pada wisuda sekolahku. Sedang teman-teman putri memakai kebaya yang anggun, membuat mereka semakin cantik.
            "Wah, gantenge Rek!", ledek Hendra. Aku tertawa.
            "Selamat ya, Mahasiswa FKH Unair yang semalam galau", ucapku pada Hendra sambil tertawa. "Enak ya, udah tenang, gak perlu mikir nyari kampus lagi. Sedang aku masih terpuruk Bang. Entah kapan dan dimana semangat belajarku akan berlabuh. Aku gagal di SNMPTN Undangan" lanjutku. Hendra tersenyum.
            "Seperti kata pepatah, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Kamu pasti tahu pada percobaan keberapa Alfa Edisson berhasil menyalakan lampunya. Ia gagal hampir 1000 kali. Tapi akhirnya juga berhasil", kata Hendra.
            "Aku bukan Alfa Edisson. Aku juga bukan ingin menemukan lampu. Aku hanyalah Junto yang ingin melanjutkan pendidikan. Sederhana 'bukan???"
            "Dan kamu bukan gagal. Hanya saja belum berhasil" Husna menimpali dari belakang. Aku menoleh. "Kamu tahu, di plafon kamarku kutulis HANYA GAK GAMPANG, BUKAN GAK MUNGKIN. Kata-katamu dulu saat teman-temanmu tenggelam dalam keputus asaan. Lalu bagaimana bisa kamu yang berusaha memotivasi teman-temanmu, malah tertidur dalam ketidak bangkitan??? Aku juga belum berhasil, namun aku tetap semangat. Putus asa adalah pemutus harapanmu kawan. Bangkitlah!!"
            Aku terdiam sejenak. "Aku dari dulu ingin orangtuaku bangga saat membaca namaku terpampang disana". Tanganku menunjuk banner besar bertuliskan nama teman-teman yang sudah diterima di perguruan tinggi impian mereka. Puluhan di UB, belasan di Unair, beberapa di Unesa, Unej, Unijoyo, dan belasan lagi di instansi lain.
            "Namamu memang tidak terpampang disana saat ini kawan. Tapi percayalah, namamu akan ada di koran seluruh Jawa Timur saat dirimu lolos SNMPTN jalur tulis nanti. Just Make it happen!" Adjie datang menepuk bahuku. Aku kembali terdiam. Hanya senyum dan sebuah keyakinan yang kini menghiasi wajahku.
            "Makasih teman-teman"..
***
            06 Juli 2012. Mentari malam cerah bersinar. Menerangi suka citaku setelah melihat pengumuman SNMPTN jalur tulis. Aku dan Adjie diterima di kampus perjuangan ITS Surabaya. Aku jurusan Kimia, sedang Adjie jurusan Teknik Sistem Perkapalan. Husna akhirnya menemani Hendra di FKH Unair. Cita lebih dahulu diterima di Perikanan dan Kelautan kampus biru UB. Dan Cintya melanjutkan di Institut Teknologi Telkom kota kembang, Bandung.
            Setelah liku langkahku, aku menyadari bahwa putus asa hanyalah memutus mimpi. Membuatnya semakin fana dan jauh dari kenyataan. Teruslah berusaha untuk membuat mimpimu jadi nyata, apapun itu.
            Buat adik-adikku di SMAN 1 Gedangan Sidoarjo, teruslah mengejar mimpimu. Selalu ada jalan kalau kamu mau berusaha. Satu-satunya yang tidak mungkin dalam dunia ini adalah ketidakmungkinan itu sendiri. ;-)
note: kalau kuliah gak usah takut tentang biaya. Banyak banget bheasiswa. Aku udah buktiin sendiri.

3 comments:

  1. Mantap gan. Lanjutkan. Semoga blog ini bisa menjadi salah satu blog sastra terbaik ya aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Gun :D
      makasih Cin :)
      Tunggu bukuku ya :)

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete