Oleh:
M. Junianto Tri Gunawan
Alumni
XII Ipa 1 SMAN 1 Gedangan tahun 2012
Sebuah hari di Januari 2012. Awan
tengah baik hati. Membiarkan sinar mentari menerobosnya dengan garang. Membuatku
hampir melenakan nikmat Allah yang satu ini. Hari ini adalah hari pertanggung
jawaban. Hari dimana aku harus mengetahui hasil belajarku selama semester 5 masa SMAku. Konon, rangking kelas
disemester ini akan menjadi syarat berhak mengikuti Seleksi Nasional Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur undangan, seperti persyaratan tahun
lalu. Hanya yang masuk 50% rangking kelas yang berhak mengikutinya. Sekelasku
ada 36 siswa. Minimal aku harus rangking 18 untuk berhak mengikuti seleksi ini.
Semester 2 dan 3, aku berturut-turut rangking 14 dan 15. Dan untuk semester
ini, aku berharap tidak merosot begitu jauh, agar aku tak kalah sebelum
berperang.
![]() |
| Ilustrasi |
Sedikit melankolis suasana siang
itu. Aku bersama beberapa teman, Hendra, Adjie, Cita, Cintya, Husna, dan teman
yang lain bercengkerama di depan ruang kelas, menanti orang tua keluar dengan
kabar bahagia. Sedikit gelisah ketika melihat tumpukan raport yang akan dibagi.
Khawatir dengan isinya yang tidak memuaskan.
"Alhamdulillah, aku rangking
3" ucap Cintya setelah membaca lembaran urutan rangking yang dibawa
Ayahnya keluar kelas.
"Wah, aku berapa ya?? "
pertanyaan yang sama dariku dan teman-temanku. Rasa penasaran membuat kami
berebut lembaran itu. M Junianto Tri G, kucari namaku di deretan nama
teman-teman. Saat kutemukan namaku, kulihat urutanku: 22. Aku tidak berhak
mengikuti SNMPTN undangan. Seolah siang menjadi malam yang begitu gelap. Saat gelapnya mampu meniadakan indahnya
taburan bintang. Saat bulan seolah kehilangan sinarnya. Hanya ada kegelapan
yang menandai malam semakin malam. Membiarkan aku tenggelam dalam hitam,
terpuruk dalam ketidakpercayaan. Aku memang tidak seberapai pandai. Tidak
pandai malahan. Aku memang menyadari itu. Tapi tetap saja aku tak bisa menerima
kenyataan ini.
Beberapa bulan kemudian, ada
sosialisasi tentang SNMPTN undangan dari guru BK. Persyaratan SNMPTN Undangan
2012 diubah. Yang tadinya syaratnya rangking 50% kelas, kini diubah menjadi
rangking 50% pararel. Dan aku?? Alhamdulillah berhak mengikuti SNMPTN Undangan.
Walau begitu, aku masih saja belum bisa bernafas lega. Masalah klasik masih
saja menghalangiku: biaya. Ekonomi keluargaku tidaklah baik. Namun
Alhamdulillah, ada program bidikmisi dari pemerintah, yang memungkinkan aku
merasakan pendidikan tinggi tanpa biaya akademis apapun. Sungguh Allah Maha
Mengetahui dan Maha Memberi Pertolongan.
***
08 Juni 2012. "Esok, perpisahan
kita mulai benar adanya. Akan ada "kehidupan" baru yang harus kita
selami. Tiada lagi cerita kejahilan ababil ABG labil kita. Hilang sudah putih
abu-abu kita. Hanya ada haru dan harapan untuk bertemu lagi nantinya, semoga
dalam keadaan yang lebih baik tentunya". Kutersenyum membacanya. Sebuah
SMS dari temanku, Hendra. Beberapa SMS bernada serupa namun beda kata berebut
masuk hapeku. Ada dari Adjie, Cintya, Cita, dan lainnya. Besok adalah resepsi
perpisahan kami. Pantas saja kalau mereka galau.
Mentari cerah dari timur. Senyum
mengembang dariku. Kemeja terang berdasi, dibalut setelan jas gelap pinjaman
pamanku, ditambah sepatu pantofel membuatku semakin percaya diri. Ini adalah dresscode siswa pada wisuda sekolahku.
Sedang teman-teman putri memakai kebaya yang anggun, membuat mereka semakin
cantik.
"Wah, gantenge Rek!", ledek Hendra. Aku tertawa.
"Selamat ya, Mahasiswa FKH
Unair yang semalam galau", ucapku pada Hendra sambil tertawa. "Enak
ya, udah tenang, gak perlu mikir nyari kampus lagi. Sedang aku masih terpuruk
Bang. Entah kapan dan dimana semangat belajarku akan berlabuh. Aku gagal di
SNMPTN Undangan" lanjutku. Hendra tersenyum.
"Seperti kata pepatah, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
Kamu pasti tahu pada percobaan keberapa Alfa Edisson berhasil menyalakan
lampunya. Ia gagal hampir 1000 kali. Tapi
akhirnya juga berhasil", kata Hendra.
"Aku bukan Alfa Edisson. Aku
juga bukan ingin menemukan lampu. Aku hanyalah Junto yang ingin melanjutkan
pendidikan. Sederhana 'bukan???"
"Dan kamu bukan gagal. Hanya saja belum berhasil" Husna
menimpali dari belakang. Aku menoleh. "Kamu tahu, di plafon kamarku
kutulis HANYA GAK GAMPANG, BUKAN GAK
MUNGKIN. Kata-katamu dulu saat teman-temanmu tenggelam dalam keputus asaan.
Lalu bagaimana bisa kamu yang berusaha memotivasi teman-temanmu, malah tertidur
dalam ketidak bangkitan??? Aku juga belum berhasil, namun aku tetap semangat. Putus asa adalah pemutus harapanmu kawan.
Bangkitlah!!"
Aku terdiam sejenak. "Aku dari
dulu ingin orangtuaku bangga saat membaca namaku terpampang disana".
Tanganku menunjuk banner besar bertuliskan nama teman-teman yang sudah diterima
di perguruan tinggi impian mereka. Puluhan di UB, belasan di Unair, beberapa di
Unesa, Unej, Unijoyo, dan belasan lagi di instansi lain.
"Namamu memang tidak terpampang disana saat ini kawan. Tapi percayalah,
namamu akan ada di koran seluruh Jawa Timur saat dirimu lolos SNMPTN jalur
tulis nanti. Just Make it happen!"
Adjie datang menepuk bahuku. Aku kembali terdiam. Hanya senyum dan sebuah
keyakinan yang kini menghiasi wajahku.
"Makasih teman-teman"..
***
06 Juli 2012. Mentari malam cerah
bersinar. Menerangi suka citaku setelah melihat pengumuman SNMPTN jalur tulis.
Aku dan Adjie diterima di kampus perjuangan ITS Surabaya. Aku jurusan Kimia,
sedang Adjie jurusan Teknik Sistem Perkapalan. Husna akhirnya menemani Hendra
di FKH Unair. Cita lebih dahulu diterima di Perikanan dan Kelautan kampus biru UB.
Dan Cintya melanjutkan di Institut Teknologi Telkom kota kembang, Bandung.
Setelah liku langkahku, aku
menyadari bahwa putus asa hanyalah memutus mimpi. Membuatnya semakin fana dan
jauh dari kenyataan. Teruslah berusaha untuk membuat mimpimu jadi nyata, apapun
itu.
Buat adik-adikku di SMAN 1 Gedangan
Sidoarjo, teruslah mengejar mimpimu. Selalu ada jalan kalau kamu mau berusaha.
Satu-satunya yang tidak mungkin dalam dunia ini adalah ketidakmungkinan itu
sendiri. ;-)
note:
kalau kuliah gak usah takut tentang
biaya. Banyak banget bheasiswa. Aku udah buktiin sendiri.

Mantap gan. Lanjutkan. Semoga blog ini bisa menjadi salah satu blog sastra terbaik ya aamiin
ReplyDeleteAamiin Gun :D
Deletemakasih Cin :)
Tunggu bukuku ya :)
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete