Segala sesuatu bisa menginspirasi. Termasuk beberapa hal yang terjadi disekitarku akhir-akhir ini.
Fenomena Rumah Tangga dan seputar pernikahan yang sayangnya berakhir di perceraian.
Sebelumnya maaf, catatanku ini tidak bermaksud menyinggung atau menyindir siapapun. Hanya untuk cacatan sendiri, menginspirasi diri sendiri untuk menjadi insan yang lebih baik lagi. Bilamana ada kesamaan kisah ataupun kejadian, bisa jadi memang andalah inspirator saya, bisa jadi hanya kebetulan semata. Mohon dimaafkan.
kuawali ceritaku dengan curhatan seorang sahabat mengenai hobi suaminya yang sebenarnya tidak aneh, hanya membutuhkan banyak biaya dan mengorbankan tidak sedikit waktu. Maaf, tidak kusebutkan nama hobinya, untuk melindungi identitas Sang Sahabat. Awalnya dia enjoy dengan hobi suaminya tersebut, karena bisa menjadikan dia bisa berbuat baik dengan tetangga dan handai taulan. Namun, seiring berjalannya waktu dia sedikit keberatan, karena ada sedikit masalah yang membuat sisi financial rumah tangga menjadi kurang sehat. Nha sahabatku 'mengira' (kupikir lebih tepat demikian ya, karena menurutku ketidak sehatan keuangan dalam suatu rumah tangga perlu adanya analisa apa yang menyebabkan si 'keuangan' sakit. Dan aq yakin sahabatku belum menganalisa, masih mengira-ira) penyebabnya adalah hobi sang suami. Sampai pada akhirnya ada pertengkaran akan sesuatu, sang istri menuntut sang suami untuk menyehatkan kembali 'sakitnya' financial tersebut. Sang suami tidak terima, karena menurutnya penyebab dari ketidak sehatan si financial karena kekurang telitian si istri dalam me-manaj keuangan. Lalu terucap kata permintaan cerai dari si istri dan sang suami meng-'aamiin'-i permintaan tersebut. (Dan itu terjadi didalam pertengkaran tersebut). Sampai disini aku menjadi sangat terheran-heran,
1. Apa alasan sahabatku memilihku untuk menjadi tempat curhat ya???? Menurutku aku bukan orang yang baik untuk menjadi tempat curhat, komentarku selalu terucap apa adanya dan selalu terdengar pedas, tanpa aku peduli apakah komentarku bakalan diterima atau tidak, apakah komentarku menentramkan hati atau malah sebaliknya. Lalu kenapa dia memilihku ya???? (Kayaknya ini gagal fokus deh ya?)
2. Kembali ke cerita sahabatku tadi. Bagaimana bisa masalah sepele yakni hobi, meningkat hingga menjadi perceraian? Ini tadi aku yang salah dengar, atau memang begitu langkahnya?
Lalu aku menanyakan ke temanku mengapa mengajukan permintaan cerai tersebut. Kurang lebih jawabnya demikian :"Aku gak terima lah Dwi, enaknya dia menuduhku tidak becus mengurus keuangan, boros lah, bego ngurus anak, gak becus ngerawat diri. Nha sekarang dia gak nggrayahi gitok'e dewe (meraba tengkuknya sendiri). Dia lho ngasih uange seberapa? Apa cukup? Apa sudah sesuai? Dia tuh gak mau tahu Dwi, tentang itu semua. Tahu beres aja. Nha waktu kutuntut untuk nambah uang bulanan dia juga gak bisa. Nha terus aku harus ngalah gitu Dwi? Dia nuntut aku macem-macem, tapi dia tidak mau kutuntut? makan ati, Dwi!!". Ucapan yang terakhir terdengar sangat marah dia. Hmmmm, pikirku, makan ati kan enak. apalagi kalo ati ampelanya dibumbuin bumbu rujak gitu. kan enak. Hehehehehhehehe........
Sejenak aq berpikir, kan kalo masalahnya cuma gitu sih bisa disiasati dengan komunikasi baik, mengajak suami untuk mengatur keuangan bersama, atau belajar bersama bagaimana mengatur keuangan biar tidak besar pasak daripada tiang kan?
Tapi memang harus aku akui, setiap segala sesuatu tidak bisa disepelekan. Menurutku kata-kata 'cuma begini aja' atau 'halah gitu aja' atau kata lain sejenisnya lah ya, itu adalah ungkapan menyepelekan. Termasuk masalah sahabatku itu. Tidak bisa hanya dengan dipandang 'halah, hanya masalah hobi aja bisa jadi cerai?'. Tidak sesepele itu.
Lalu dicerita lain yang kudengar tentang sesorang. Didalam rumah tangganya yang memang tidak sehat dari awal, dia mencoba bertahan, namun akhirnya dia mengalah dengan mengundurkan diri menjadi istri kepada suaminya. Yaaaaahhh, dia mulai tidak sabar dengan perlakuan kasar sang suami, dan tingkah suami yang sudah 2 kali ketahuan selingkuh. Menurutku sih ini karena kegoblogan suami ya, kalo niatnya itu selingkuh, mbok ya bisa bermain cantik biar tidak ketahuan. Lak gitu. Hehehehehehehehehehe. Bukan, bukan, bukan demikian. Si suami ini tidak sadar diri. Udah punya istri cantik, pinter nyari uang, tidak pernah menuntut apapun ke suami, nerima suami apa adanya, berusaha sendiri mencukupi kebutuhannya, tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri, tidak sekalipun bermasalah dengan saudara ataupun tetangga, ideal lah kupikir dia itu sebagai istri. Bahkan memaafkan ketika sang suami minta maaf saat khilaf berselingkuh. (Kukira se minta maafnya ya bukan karena tulus ya, karena kepergok aja, buktinya diulangi lagi.) Ketika dia sudah tidak kuat bertahan survive sendirian, dia mengajukan permohonan talaq ke suaminya. Dan apa yang dilakukan sang suami? Dia meluluskan perminataan cerai itu hanya karena dia memilih wanita baru yang notabene lebih muda. Malahan dia meminta si istri untuk meninggalkan rumahnya padahal itu adalah harta si istri, pembelian si istri sendiri. tapi dia merelakan untuk menjadi tempat tinggal suami. Alasannya :"Kasihan, dia tidak punya rumah, kalo saya pergi dari rumah, orang tua saya masih bisa menerima saya. Nha kalo mas? Nanti dia tinggal dimana? Wis nggak papa, biar tinggal dirumah itu saja. Tinggal balik nama kepemilikan menjadi milik mas."
(HAAAAAHHHHH?????? sebegitu baiknya???? Kalo orang jawa bilang 'jembar segarane'. Tapiiiii.......)
Sampai disini, aku mulai harus bisa memahami bahwa bilapun kamu disakiti, kamu tidak harus membalas dengan menyakiti ya, tapi bisa dengan cara memaafkan. Memaafkan pun bukan berarti pasrah mau untuk disakiti terus, dan pergi itu bukan berarti kalah dari usaha untuk bersabar, tapi berusaha melindungi diri untuk tidak terus tersakiti. Juga mengurangi dosa si Suami biar tidak lebih banyak dosa. Pun, usaha memaafkan adalah dengan memberikan milik yang masih berharga dan berguna ketika memang itu diminta. Masih dengan pemikiran awal, segala sesuatu tidak bisa disepelekan ya, tidak bisa dipandang sepele untuk hal yang tampak sepele sekalipun. Sabar dan Ikhlas. hmmmmhhhh....
Tidak jauh berbeda dengan kisah cinta seorang sanak familiku yang menjalin cinta dengan pria beristri. Walau banyak sekali keluarga yang menentang, dia tetap saja keukeuh dengan hubungan mereka. Apa alasannya? Dia enggan menceritakan alasannya apa. Kulihat dia memang tampak bahagia dengan hubungannya tersebut. Hingga akhirnya hubungan mereka sampai pada pernikahan setelah si pria bercerai dipernikahan sebelumnya. Hmmmmhhhh, satu wanita bahagia, sanak saudaraku. Dan ada 2 wanita terluka, Istri pertama dan putrinya. Karena alasan apa coba, si Pria rela meninggalkan istri dan anak perempuannya untuk kehadiran wanita baru. Bilapun memang ya, seandainya si istri ini mempunyai kesalahan, tak tampak sekalipun oleh pandangan umum. Malah saudaraku ini yang tampak salah ya.
Tapi dia mengatasnamakan cintanya untuk memperkuat argumennya bahwa dia berlaku benar. Memperjuangkan cintanya dengan menyakiti cinta yang lain. (HAH!!! benar darimana?! Dari Hongkong?!!! Helloooooo, O Em Jiiiiii...........)
Dan sebenarnya masih banyak lagi ya cerita senada.
Sampai disini aku mulai belajar memahami posisiku. Sebagai tempat curhat, sebagai pendengar cerita, dan sebagai penonton sebuah kisah lakon kehidupan. Aku mungkin bisa memberikan penilaian ya, lepas dari penilaianku ini salah atau benar, selektif atau tidak, menuruti pendapat subjektif atau objektif, memandang dari kacamata dan sudut pandang mana, bagaimana suasana hatiku saat menilai, dan sebagainya, dan sebagainya. Namun aku tidak boleh memaksa orang tersebut untuk juga sepemikiran dengan aku. Mungkin memberikan saran boleh lah, yang ngambil keputusan tetap mutlak sipelaku lah yang punya hak. Tapi yang lebih penting, aku harus bersyukur, karena aku beruntung mendapatkan suami yang baik, bertanggung jawab, dan mau mengerti semua tentangku, dari kondisiku, keadaanku, kelemahanku, kekuranganku, sifat-sifatku, dan.... Aku seutuhnya.
Disisi lain, aku juga harus mempersiapkan diri untuk menjadi tegar dengan segala kondisi alam dan lingkungan. Karena aku sedang berjuang membina biduk rumah tangga serta membangunnya supaya bergerak dan berkembang pesat menjadi kapal pesiar di luasnya samudera kehidupan lengkap dengan segala paket masalahnya. Tujuannya sih tetep ya, keluarga yang sakinah mawaddah warahmah hingga ke JannahNya kelak.
Dan jugaaaa, ternyata aku harus belajar berkomunikasi dan mengkomunikasikan segala hal. Disini berarti aku harus bisa mengenali orang yang akan aku ajak komunikasi ya. Bagaimana kondisinya, bagaimana aku mengertikannya, kapan saat yang tepat ngomongnya. Dan tentu saja cerdas dalam mengaktualisasikannya. Itu ternyata juga penting.
Poin selanjutnya : Aku harus mengerti, sebagai personel dari Band yang bernama "Rumah Tangga" ini, aku harus bisa melihat arti penting dari sesama anggota Band-ku. Aku harus bisa melihat sisi baiknya diantara sisi-sisi buruknya. Aku harus bisa memahami kekurangannya sebagaimana aku menerima kelebihannya. Aku dituntut untuk bisa menerima dan memaafkannya kesalahannya dengan mengingat semua kebaikan yang telah dilakukan.
Dan yang tak kalah pentingnya ya, aku harus bisa sabar dan juga ikhlas. dan seharusnya sabar dan ikhlas itu tidak ada batasnya. Yaaa, disini pun aku juga masih belajar, ya. Belajar dari pengalaman, baik pengalaman sendiri maupun pengalaman orang sekitar.
Di akhirnya, besar harapanku rumah tangga kita semua baik-baik saja ya, dan semakin lama semakin baik. Berjodoh hingga ke Jannahnya. Aamiin.
#Cerita untukku memperbaiki diri.

No comments:
Post a Comment