Thursday, 27 August 2015

Kedatanganku



Senin, 06 Juli 2012
                Mentari mulai menapaki singgasana tertinggi saat motorku telah sampai wilayah kabupaten Trenggalek, pesisir selatan provinsi Jawa Timur. Tepat sebelum kumandang dzuhur, aku menepi pada sebuah masjid. Sejenak melepas lelah setelah 5 jam memutar gas motor, sekalian mengisi absensi pada Yang Maha Kuasa. 30 menit istirahat dan sholat, aku melanjutkan perjalanan. Dari pusat kota Trenggalek, masih 37 kilometer lagi jarak yang harus kutempuh. Ya, kampung halamanku memang agak pelosok.
Transportasi umum ke kampungku hanya sampai di kota kecamatan. Sedangkan kampungku berjarak 7 kilometer dari kota kecamatan. Jarak tersebut dulu ditempuh dengan jalan kaki. Namun kini bisa menumpang pengendara motor yang melintas, karena sudah banyak warga yang memiliki motor. Kota kecamatan ini berubah menjadi pasar tiap 5 hari sekali, tepatnya pada hari pasaran kliwon menurut perhitungan orang jawa. Waktu aku TK, pergi ke pasar masih ditempuh jalan kali. Kini sudah banyak kendaraan “pick up L-300” dengan bak terbuka yang digunakan untuk transportasi orang ke dan pulang dari pasar tiap hari kliwon.
Sangat bersyukur rasanya kini kampungku mulai maju. Jalan desa sudah dibangun dengan cor beton. Kami menamainya “rabatan beton”. Dulu, jalan masih berupa makadam. Itu lho, jalan yang berupa tumpukan batu yang ditata menutupi tanah disepanjang jalan. Jangankan untuk kendaraan bermotor, untuk jalan kaki saja susah. Pada beberapa bagian jalan juga masih berupa tanah yang licin saat hujan dan berdebu saat kemarau.
***
          Terik mentari sudah tak terasa lagi. Bukan kerena sore menjelang, tapi karena dingin menerjang. Aku telah sampai di rumah kakek dan nenekku. Senyum teduh itu mulai tua, namun tetap menyambutku dengan haru. Keharuan yang sama saat aku pulang pada libur semester enam bulan yang lalu. Aku menghambur dan menyambut tangan beliau penuh hormat. Kucium tangan dengan guratan mulia itu, “Pripun Mbok kabaripun?”. (SM)

No comments:

Post a Comment