Saturday, 12 July 2014

Pemuda dengan Ayahnya

            Alkisah, ada seorang pemuda yang bertengkar dengan ayahnya. Si Pemuda begitu marah, sehingga kabur dari rumah. Suatu hari, pemuda itu kehabisan bekal. Ketika melewati warung, pemilik warung berbaik hati memberi makanan pada pemuda tersebut. Pemuda itu begitu gembira dan sangat berterimakasih pada pemilik warung. Beberapa saat kemudian, pemuda itu bercerita pada pemilik warung tentang kemarahannya pada Ayahnya. Selesai mendengar cerita pemuda itu, pemilik warung berkata: “Anak muda, engkau baru sekali kuberi makanan dan engkau begitu senang bergembira. Sedangkan ayahmu telah memberimu makan, pakaian, dan memenuhi segala kebutuhanmu selama ini. Dan kini engkau begitu marah padanya. Pulanglah Nak, temui Ayahmu”
Ilustrasi
            Pemuda tersebut bergegas menghabiskan makanannya dan pamitan pulang menemui Ayahnya. Sesampainya di rumah, pemuda tersebut memeluk kaki sang Ayah sambil meminta maaf atas apa yang dilakukannya. Sang Ayah mengangkat bahu anaknya dan memeluknya dalam haru.

            Pembaca, cuplikan kisah diatas kutulis dari  program “Renungan Sejenak” asuhan kang Arman Maulana yang tayang di NET TV selama ramadhan menjelang adzan maghrib. Dari kisah tersebut, “sentilan” yang kudapat adalah bagaimana aku sering lupa kebaikan kedua orangtuaku sehingga aku terkadang tega mempunyai rasa marah. Astaghfirullahah’adziim.. Padahal mereka sudah berbaik hati padaku dan merawatku dengan penuh kasih sayang. Dari aku yang mungil tak bisa apa-apa sampai aku tumbuh dewasa dan bisa berfikir, malah terkadang lupa memikirkan perasaan orang tua atas kelakuanku. Ini tidak akan terjadi lagi. Insya Allah.
            Apa hikmah yang kamu tangkap??