Alkisah, ada seorang pemuda yang
bertengkar dengan ayahnya. Si Pemuda begitu marah, sehingga kabur dari rumah.
Suatu hari, pemuda itu kehabisan bekal. Ketika melewati warung, pemilik warung
berbaik hati memberi makanan pada pemuda tersebut. Pemuda itu begitu gembira
dan sangat berterimakasih pada pemilik warung. Beberapa saat kemudian, pemuda
itu bercerita pada pemilik warung tentang kemarahannya pada Ayahnya. Selesai
mendengar cerita pemuda itu, pemilik warung berkata: “Anak muda, engkau baru
sekali kuberi makanan dan engkau begitu senang bergembira. Sedangkan ayahmu
telah memberimu makan, pakaian, dan memenuhi segala kebutuhanmu selama ini. Dan
kini engkau begitu marah padanya. Pulanglah Nak, temui Ayahmu”
Pemuda tersebut bergegas menghabiskan
makanannya dan pamitan pulang menemui Ayahnya. Sesampainya di rumah, pemuda
tersebut memeluk kaki sang Ayah sambil meminta maaf atas apa yang dilakukannya.
Sang Ayah mengangkat bahu anaknya dan memeluknya dalam haru.![]() |
| Ilustrasi |
Pembaca, cuplikan kisah diatas
kutulis dari program “Renungan Sejenak”
asuhan kang Arman Maulana yang tayang di NET TV selama ramadhan menjelang adzan
maghrib. Dari kisah tersebut, “sentilan” yang kudapat adalah bagaimana aku
sering lupa kebaikan kedua orangtuaku sehingga aku terkadang tega mempunyai
rasa marah. Astaghfirullahah’adziim.. Padahal mereka sudah berbaik hati padaku
dan merawatku dengan penuh kasih sayang. Dari aku yang mungil tak bisa apa-apa
sampai aku tumbuh dewasa dan bisa berfikir, malah terkadang lupa memikirkan
perasaan orang tua atas kelakuanku. Ini tidak akan terjadi lagi. Insya Allah.
Apa hikmah yang kamu tangkap??
